PENDAHULUAN
Salah satu kebijakan Pemerintah yang
disebutkan dalam butir-butir Arah Kebijakan Pendidikan Nasional bidang
Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2001/2004 adalah melakukan pembaruan dan
pemantapan sistem pendidikan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu
pendidikan agar guru (pendidik) maupun siswa (yang dididik) memiliki kualitas
yang optimal dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Sekolah bagi para orang dewasa merupakan
tempat untuk menuntut ilmu dan sekolah adalah tempat untuk mendapatkan
pendidikan yang layak namun bagi anak – anak Sekolah Dasar, sekolah merupakan
tempat yang menyenangkan dimana dia bisa bertemu dengan teman, bermain dan
bersenang-senang.
Anak-anak yang masih duduk di Sekolah
Dasar kelas bawah biasanya belum bisa berpikir secara abstrak, mereka akan
percaya jika mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Itu artinya
anak-anak masih berpikir secara konkret atau nyata.
Di sekolah anak akan mendapatkan ilmu
dan pendidikan sehingga anak mampu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya,
serta akan mengenal guru yang akan menjadi panutan bagi anak. Pelajaran untuk
anak sekolah dasar mungkin dianggap mudah bagi guru, orangtua, maupun orang
dewasa tetapi bagi anak pelajaran akan sangat sulit jika mereka tidak dapat
melihat atau tidak diberikan contoh yang konkret.
Hasilnya anak akan kesulitan dalam
menerima pelajaran, tidak memiliki motivasi dalam belajar dan yang lebih parah
lagi mereka akan melupakan pelajaran yang baru saja mereka pelajari, oleh
karena itu sebagai seorang guru harus mampu menampung setiap kesulitan belajar
anak. Agar guru mampu mengembangkan media pembelajaran bagi anak sehingga anak
memiliki motivasi lebih dalam belajar.
Media pembelajaran memiliki arti penting
karena dalam kegiatan belajar mengajar pasti adanya ketidakjelasan bahan yang
disampaikan, maka dari itu media adalah perantara antara guru dengan muridnya.
Sehingga dengan adanya media proses belajar mengajarpun menjadi lebih efektif.
Dari sekian banyak media pembelajaran
seperti visual, audio, dan audio-visual saya akan membahas media pembelajaran
visual. Lebih tepatnya pengembangan media berbasis visual. Dengan adanya media
visual (gambar) anak akan lebih memahami apa yang sedang guru terangkan dan apa
tujuannya,
Dalam
proses belajar mengajar media visual sangat penting. Media visual dapat
mempermudah anak memahami pelajaran dan memperkuat ingatan. Agar menjadi
efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada waktu yang tepat sehingga anak mampu
menangkap apa yang sedang guru coba jelaskan, dan anak pun merasa apa yang
diperlihatkannya itu adalah sebuah informasi penting yang harus dia ingat.
Informasi
yang disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti
gambar, foto, diagram, bagan, poster, grafik dan lain sebagainya. Menurut
Sipahelut (1995) dan Sunaryo (2000) media grafis memiliki beberapa unsur yaitu
: garis, bidang, tekstur, warna, gelap terang, ruang, dan komposisi.
Garis
Garis merupakan deretan titik yang
menyambung dengan kerapatan tertentu atau dapat pula berupa dua buah titik yang
dihubungkan. Garis memiliki sifat memanjang dan memiliki arah tertentu. Unsur
yang paling menonjol adalah dimensi panjangnya.
Bidang/bentuk
Bidang merupakan unsur rupa yang
memiliki dimensi panjang dan lebar, sedangkan bentuk memiliki dimensi panjang,
lebar, dan tinggi atau dengan kata lain, bidang bersifat pipih, sedangkan
bentuk memiliki isi atau volume. Dari bentuknya, bidang maupun bentuk terdiri
atas beberapa macam, yakni bidang geometris, bidang biomorfis, bidang bersudut,
dan bidang tak beraturan. Bidang dapat terbentuk karena kedua ujung garis yang
bertemu atau dapat pula terjadi karena sapuan warna.
Tekstur
Tekstur merupakan sifat permukaan sebuah
benda. Sifat permukaan dapat berkesan halus, kasar, kusam, mengkilap, licin,
berpori, dan sebagainya. Kesan-kesan tersebut dapat dirasakan melalui
penglihatan dan rabaan. Oleh karena itu, terdapat dua jenis tekstur, yaitu
tekstur nyata.
Warna
Secara teori warna dapat dipelajari
melalui dua pendekatan yaitu teori warna berdasarkan cahaya (dipelopori Isaac
Newton) dan teori warna berdasarkan pigmen warna (Goethe). Teori warna
berdasarkan cahaya dapat dilihat melalui tujuh spectrum warna dalam ilmu
fisika, seperti halnya warna pelangi. Untuk kepentingan pembelajaran media
grafis, kita membahas teori warna berdasarkan pigmen, yakni butiran halus pada
warna.
Gelap terang
Dalam visualisasi pesan media dua
dimensi, gelap terang dapat berfungsi untuk beberapa hal, antara lain
menggambarkan benda menjadi berkesan tiga dimensi, menyatakan kesan ruang atau
kedalaman, dan memberi perbedaan (kontras). Gelap terang dalam media grafis
dapat terjadi karena intensitas (daya pancar) warna, dapat pula terjadi karena
percampuran warna hitam dan putih.
Ruang (kedalaman)
Ruang dalam media tiga dimensi dapat
dirasakan langsung oleh pengamat seperti halnya ruangan dalam rumah, ruang
kelas, dan sebagainya. Dalam karya dua dimensi, ruang dapat mengacu pada luas
bidang gambar. Unsur ruang atau kedalaman pada karya dua dimensi bersifat semua
(mayat) karena diperoleh melalui kesan penggambaran yang pipih, datar,
menjorok, cembung, jauh, dekat, dan sebagainya. Oleh karena itu dalam karya dua
dimensi kesan ruang atau kedalaman dapat ditempuh melalui beberapa cara
diataranya: 1. Melalui penggambaran gempal, 2. Penggunaan perspektif, 3.
Peralihan warna, 4. Pergantian ukuran, 5. Penggambaran bidang bertindih, 5.
Penggambaran bidang bertindih, 6. Pergantian tampak bidang, dan 8. Penambahan
baying-bayang.
Komposisi
Komposisi pada dasarnya sama dengan
prinsip visual. Di dalamnya membahas tentang bagaimana mengatur, menata, atau
mengorganisasikan unsur-unsur visual agar karya seni yang dibuat menjadi enak
dipandang. Komposisi ialah susunan unsur-unsur yang dapat memancarkan kesan
kesatupaduan, irama, dan keseimbangan dalam suatu media grafis sehingga karya
itu terasa utuh, jelas, dan memikat. Paduan unsur-unsur yang berdampingan akan
menimbulkan kesan selaras atau pertentangan.
Komposisi sama halnya dengan suatu
masakan, dapat terasa hambar, enak, atau sedap. Komposisi akan terasa hambar
kalau iramanya tidak menentu. Komposisi akan terasa enak jika iramanya jelas
dan mempunyai pusat perhatian. Komposisi akan terasa sedap kalau iramanya bervariasi
dan mempunyai keseimbangan yang dinamis, sehingga tidak membosankan.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa dari beberapa unsur itu saling berkaitan karena setiap
gambar pasti memiliki garis, bidang, tekstur, warna, gelap terang, dan
komposisi. Media visual adalah media yang hanya bisa dilihat sehingga informasi
yang ingin disampaikan dapat sampai kepada penerimanya.
Adapun
macam-macam media grafis yaitu gambar/foto, diagram, bagan, poster, grafik,
media cetak, dan buku.
Gambar/foto
Dalam proses pembelajaran gambar atau
foto mempermudah kegiatan pembelajaran karena dapat memperjelas suatu masalah
yang sedang dibicarakan, harganya yang relatif murah membuat para pengajar
tertarik untuk menggunakan media gambar atau foto dan tidak memerlukan peralatan
khusus untuk penyampaiannya. Seorang guru dapat mengembangkannya dengan cara
membuat atau mencetak foto yang berkaitan dengan pelajarannya lalu ditempelkan
pada papan tulis atau bisa juga ditempelkan pada kertas karton yang besar agar
apa yang ingin disampaikan oleh guru kepada muridnya bisa tersampaikan secara
baik, dan muridpun merasa apa yang diberikan guru adalah suatu informasi
penting yang perlu diingat olehnya.Namun dari begitu banyaknya kelebihan gambar
atau foto memiliki kekurangan yaitu gambar atau foto hanya menekankan persepsi
indra mata dan ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar atau untuk orang
yang lebih banyak.
Diagram
Diagram adalah garis-garis atau
simbol-simbol untuk menunjukkan hubungan antara komponen atau menggambarkan
suatu proses tertentu. Dengan menggunakan diagram, bahan yang diajarkan untuk
murid dapat lebih mudah dipahami oleh mereka. Untuk seorang guru
mengembangkannya dengan cara membuat diagram sesuai dengan pelajaran yang
sedang dipelajari misalnya membuat diagram lalu dipresentasikan kepada murid
melalui powerpoint dan menggunakan alat seperti proyektor. Dengan begitu anak
akan mampu menangkap dan memahami apa yang sedang dia pelajari.
Bagan
Bagan adalah media grafis yang didesain
untuk menyajikan ringkasan visual secara jelas dari suatu proses yang sangat
penting. Biasanya dalam bagan dilengkapi juga dengan media grafis lainnya
seperti gambar atau foto, lambang-lambang verbal lainnya. Sebaiknya pembuatan
bagan dibuat secara sederhana dan tidak berbelit-belit. Ada beberapa macam
bagan, misalnya bagan pohon, bagan akar, dan bagan arus. Cara guru
mengembangkannya agar bahan yang ingin disampaikan kepada muridnya tersampaikan
adalah setiap bahan yang terlalu banyak dan dirasa akan sulit dipahami oleh
anak-anak sebagai seorang guru harus cerdas dan bisa membuat bagan yang mudah
dimengerti oleh muridnya sehingga semua bahan yang ingin disampaikan itu
tersampaikan sesuai dengan yang guru inginkan.
Poster
‘Poster adalah media yang digunakan
untuk menyampaikan suatu informasi, saran atau ide tertentu, sehingga dapat
merangsang keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan tersebut.
Jadi tidak hanya saat proses pembelajaran saja guru dapat mengajak anak atau
memberikan pendidikan tetapi juga bisa melalui poster yang biasanya ditempel
pada mading sekolah, untuk meningkatkan minat baca anak guru dapat menempelkan
poster yang berisikan atau mengajak untuk rajin membaca tentunya dengan poster
yang membuat anak tertarik. Poster yang membuat anak tertarik biasanya adanya gambar,
foto dan lain sebagainya.
Grafik
Grafik adalah media visual berupa garis
atau gambar yang dapat memberikan informasi mengenai keadaan atau perkembangan
sesuatu berdasarkan data secara kuantitatif (angka/hitungan). Biasanya media
visual grafik ini dipakai ketika pelajaran IPS dan MTK misalnya grafik tentang
perkembangan penduduk, perkembangan jumlah siswa, dan lain sebagainya.
Media cetak dan Buku
Untuk media cetak dan buku biasanya di
sekolah akan diberikan buku yang sudah diberikan oleh pemerintah dan diberikan
kepada murid, yang paling penting adalah bagaimana cara guru meningkatkan minat
membaca anak. Agar anak termotivasi membaca adalah tergantung dengan cara guru
memberikan pengajaran buatlah anak nyaman dengan pelajaran sehingga anak akan
penasaran dengan pelajaran tersebut dan secara tidak langsung akan mempelajari
atau membaca pelajaran tersebut. Contohnya pelajaran Bahasa Indonesia buatlah
anak menyukai pelajarannya dengan cara guru sering memberikan cerita kepada
anak-anak dan pada satu waktu guru menanyakan apa kesimpulan dari cerita
tersebut sehingga secara tidak langsung disitu terjadilah proses pembelajaran.
Selain
media visual diatas adapula yang sekarang sedang marak diperbincangkan adalah
media visual berupa komik, karena begitu tingginya minat anak terhadap komik
hal tersebut mengilhami untuk dijadikannya sebagai media pembelajaran. Bagaimana
tidak menurut penelitian Thorndike, diketahui bahwa anak yang membaca komik
maka sama dengan membaca buku buku pelajaran dalam setiap tahunnya, jika
dibandingkan dengan siswa yang tidak membaca komik maka siswa yang membaca
komik memiliki banyak kosakata dibandingkan yang tidak membaca komik.
Bukan
berarti membaca komik lebih baik daripada membaca buku pelajaran melainkan guru
mampu mengembangkan media visual tersebut karena banyaknya kelebihan media
visual komik dari segi penyajiannya. Penyajiannya mengandung unsur visual dan
cerita yang kuat. Ekspresi yang divisualkan membuat pembaca terlibat atau
merasakan emosional sehingga membuat pembaca terus membacanya hingga selesai. Karena
siswa cenderung menyukai buku yang bergambar diharapkan komik akan lebih baik
jika berisikan pelajaran yang berkaitan dengan proses pembelajaran atau
memiliki nilai moral didalamnya, dengan begitu siswa dapat termotivasi untuk
membaca.
Media adalah alat bantu yang berguna
dalam kegiatan belajar mengajar. Alat bantu dapat mewakili sesuatu yang tidak
dapat disampaikan guru melalui kata-kata atau kalimat. Kesulitan siswa memahami
konsep dan prinsip tertentu dapat diatasi dengan bantuan media pembelajaran. Karena dengan adanya alat bantu dapat mempermudah guru
dalam proses pembelajaran.
Menurut Djamarah dan Zain (2002:144)
media berbasis visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan.
Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat
penting dalam proses belajar mengajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman
dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat
memberikan dukungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar
menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan
siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya
proses informasi.
Siswa menerima
pesan-pesan visual, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ada dua variabel yang
sangat penting, yaitu perkembangan usia anak dan latar belakang yang dianutnya.
Hasil temuan ahli psikologi perkembangan anak, menunjukkan bahwa keterbacaan
visual dipengaruhi oleh kematangan jiwa anak. Misalnya, sebelum usia 12 tahun
anak cenderung untuk menafsirkan pesan-pesan visual menurut bagian demi bagian
daripada secara keseluruhan adegan dan melaporkan kesimpulan tentang makna
gambar.
Using
Projected Visual in the Classroom
Here are some general
guidelines for using projected visuals. More specific guidelines for using
presentation software, digital images, document cameras, and overhead
projection are given later in the chapter.
Use visual variety. Mix the types of
visuals, using verbal titles to help break the presentation into segments. Use
visuals that are not cluttered with illegible details. Teach your audience to
interpret visuals.
Rehearse. Plan and rehearse your
narration to accompany projected visuals if it is not already recorded on tape
or other audio medium.
Keep it moving. Limit your discussion of
each visual. Even a minute of narration can seem long to your audience unless
there is a complex visual to examine at the same time.
Pause for discussion. Get students
actively involved by asking relevant questions during your visual presentation.
You may want to ask students to take turns reading the captions (if any) aloud;
this is a useful reading activity for early elementary students. Provide
written or verbal cues to highlight important information contained in the
visuals.
Avoid irrelevant images. If there is a
“talky” section in the middle of your presentation, use a black slide or turn
off the projector rather than hold an irrelevant visual on the screen.
Test visually. Since the visual
presentation presumably is providing critical visual information, consider
using visuals to test the mastery of visual concepts. You can, for instance,
use specific visuals and ask individual students to identify or describe the
object or process shown.
Media
Visual Dalam Pelajaran Olahraga
Metode pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar
dengan menggunkan bantuan media visual akan memudahkan penyampaian materi atau
pesan dari guru kepada peserta didik. Media visual yang dipilih atau diciptakan
sebaiknya lebih memperhatikan tingkat
pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, keterbatasan sarana prasarana
sekolah, dan tingkat kesulitan materi. Media visual yang telah dipilih atau
diciptakan dapat ditampilkan dalam
bentuk yang menarik, sederhana, jelas, ekonomis, dan inovatif untuk menghindari
kesalahan persepsi oleh peserta didik terhadap materi atau pesan yang
disampaikan oleh guru. Kreatifitas guru dalam menciptakan dan menggunakan media
visual secara efektif dan efisien menyebabkan peserta didik menjadi antusias
mengikuti proses pem- belajaran sehingga tujuan dari pendidikan jasmani di
sekolah dasar dapat tercapai. Diharapkan guru akan lebih bijak dalam
memanfaatkan media visual ini.
Media
Berbasis Visual Menggunakan Permainan Ular Tangga
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa; a)secara umum media pembelajaran berbasis visual berbentuk
permainan ular tangga ini merupakan media yang efektif untuk meningkatkan daya
serap dan pemahaman siswa terhadap pelajaran, khususnya pembahasan yang sulit
diterima tanpa perantara media. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan nilai post
test siswa setelah menggunakan media pembelajaran; b)minat siswa terhadap media
pembelajaran berbasis visual sangat baik, hal ini dapat dilihat dari antusiasme
siswa pada saat menggunakan media pembelajaran ini. Ketika siswa belajar dalam
kondisi menyenangkan, maka siswa bisa menyerap dan mengingat lebih banyak
materi yang disampaikan; c)dalam perspektif guru, media pembelajaran ini kurang
menguntungkan apabila tidak terdapat guru pendamping tambahan untuk mengawasi dan
membimbing siswa pada saat menggunakan media pembelajaran, sedangkan pada umumnya
guru pendamping bidang studi hanya berjumlah satu di setiap kelas. Tanpa
pengawasan, siswa bisa mudah terjebak dalam permainan ulartangganya saja tanpa
bisa menyerap nilai-nilai penting yang disampaikan media pembelajaran.
Permainan-permainan
tradisional sederhana dapat menjadi sumber inspirasi dalam merancang sebuah
media pembelajaran. Kita mengetahui bahwa permainan ular tangga adalah salah
satu jenis permainan tradisional yang mendunia. Permainan ini tidak hanya
berlaku di negara kita saja, tetapi juga di berbagai negara lain di dunia.
Permainan ini merupakan jenis permainan kelompok, melibatkan beberapa orang dan
tidak dapat digunakan secara individu. Secara psikologis, ular tangga terbukti
dapat meningkatkan kemampuan anak-anak untuk berinteraksi dengan kehidupan
sosial. Berbeda dengan permainan berbasis media elektronik yang mengedepankan
permainan individu, dimana anak-anak akan berkonsentrasi
untuk sepenuhnya
berinteraksi dengan media elektronik seperti komputer, video game atau play
station. Para pakar psikologi menyebutkan, bahwa permainan tradisional
cenderung lebih menguntungkan dibandingkan permainan melalui media elektronik.
Ular Tangga ini dimodifikasi sehingga menjadi media permainan yang komunikatif
dan mudah dimengerti, dengan visualisasi eye catching, atraktif dan
menyenangkan untuk digunakan sebagai media belajar. Ular Tangga komunikatif
disertai dengan gambar yang menarik dan full colour mutlak dibutuhkan dalam
desain ular tangga ini. Dalam sebuah riset psikologi pendidikan disebutkan
bahwa anak-anak lebih mudah memahami bahasa visual dibandingkan dengan bahasa
verbal. Dengan demikian, sebuah media pembelajaran yang penuh dengan ilustrasi
full colour yang komunikatif akan meningkatkan minat siswa untuk belajar dan
mengingat kembali pelajaran yang telah diberikan. Media Ular Tangga ini dinilai
sangat efektif untuk mengulang (review) bab-bab tertentu dalam pelajaran yang
dianggap paling sulit untuk dipahami oleh siswa dan kurang efektif apabila
disampaikan secara verbal.
Dengan media Ular Tangga
ini guru dapat menghemat waktu untuk menjelaskan secara detail bab tertentu
yang perlu dijelaskan kembali secara struktural. Selain itu, siswa juga dapat
dengan mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru melalui media ini karena
siswa tidak merasa terbebani dengan pengulangan unit tertentu. Pembelajaran
yang melibatkan kecenderungan anak-anak untuk bermain jauh lebih efektif karena
siswa merasa lebih santai. Bagi anak-anak belajar sambil bermain adalah
penting. Seorang peneliti pendidikan bernama Peter Kline (Dryden&Vos:1999)
bahkan meyakinkan kepada kita bahwa belajar akan efektif jika dilakukan dalam
suasana menyenangkan.
Jadi dapat saya
simpulkan bahwa anak adalah peniru apapun yang orang dewasa katakan, mereka
akan percaya dengan semua jawaban atas pertanyaan yang diberikan kepada guru.
Anak akan mengingat jawaban dari pertanyaannya jika jawaban tersebut disertai
dengan sesuatu yang dia minati atau disukai oleh anak, karena menurut anak
jawaban apapun semua sama tanpa pertimbangan benar dan salah sesuai dengan yg
mereka tiru.