Open top menu
#htmlcaption1 SEA DICAT POSIDONIUM EX GRAECE URBANITAS SED INTEGER CONVALLIS LOREM IN ODIO POSUERE RHONCUS DONEC Stay Connected
Sabtu, 30 Juni 2018
no image


Cerpen Karangan: Miranti Mustikawati
Kategori: 
Cerpen Anak

Dini adalah anak yang berusia 8 tahun. Dini anak yang polos, baik, mudah bergaul dengan teman sebayanya tetapi tidak banyak berbicara. Dini selalu mau belajar apapun tentang pelajaran di sekolah sehinngga dia dapat menjadi ranking satu di sekolahnya. Meskipun orang tua nya jarang pulang dia adalah anak yang mandiri, Dini diasuh oleh bibi yang membantu keluarganya di rumah. Walaupun Dini anak yang berkecukupan bahkan lebih Dini masih merasa kurang puas dengan hidupnya.
Siang hari di Sekolah Gina temannya Dini yang memiliki pengetahuan lebih tentang agama islam dan dan lebih islami dibandingkan Dini mengajak Dini untuk shalat, ini bukan pertama kalinya Gina mengajak Dini shalat dan bukan pertama kalinya juga Dini menolak ajakan Gina. “Allahu Akbar… Allahu Akbar… ! “ terdengar suara adzan Dzuhur. “Dini ayo kita ke mushola” ucap Gina sambil berdiri memegang mukena. “Tidak gin kamu saja duluan aku nanti saja” tidak seperti hari sebelumnya Gina membiarkan Dini tidak shalat hari ini Gina lebih memaksa kepada Dini. “Ayolah Din kalau kamu terus terusan mengulur waktu shalat itu tidak baik bagaimana kalau kamu tidak sempat shalat dan kamu sudah dipanggil oleh Allah” Dini terdiam dan mengabaikan perkataan Gina.
Dini sebenarnya bukan mau mengulur ulur waktu shalat tetapi Dini malu bahwa dirinya belum bisa shalat secara benar, maklum orang tua nya jarang pulang dan dia hanya diasuh oleh bibi yang membantunya di rumah sehingga Dini kurang dalam masalah agama. Ketika Gina sudah selesai shalat kemudian Dini menghampirinya “Sebenarnya aku mau jujur gin sama kamu” ucap Dini “Jujur saja din aku akan mendengarkan apa yang akan kamu bicarakan sama aku” jelas Gina. Dini duduk dibangku dekat Gina “Sebenarnya selama ini aku tidak mau diajak shalat oleh kamu bukan karena aku malas” Dini menundukan kepalanya. “Lalu kenapa din?” jawab Gina. “Sebenarnya aku tidak bisa shalat secara benar” Gina pun memahami nya karena sebelumnya Gina pun sudah tau hanya saja menunggu Dini yang menceritakannya sendiri.
Sore hari ketika waktu nya pulang Gina menghampiri Dini “Din bagaimana kalau kamu belajar shalat sama umi aku?” Dini terkejut “Memangnya tidak apa-apa gin?” menjawab masih sambil terkejut. “Tentu tidak apa-apa din” Jawab Gina dengan senangnya. Kemudian mereka berdua pergi kerumah Dini untuk ganti baju dan membawa peralatan shalat dan ijin pada bibi di rumahnya Dini.

Dini dan Gina pergi kerumah Gina diantar oleh supirnya Dini, di dalam mobil Dini terlihat gugup dicampur rasa senang karena akan belajar shalat dengan benar, karena selama ini belum ada yang memberikan pencerahan dalam hidupnya Dini. “Ayo din ini rumah ku” ujar Gina. “Oh ya gin ternyata rumah mu sejuk yah” jawab Dini. “Ah masih sejuk rumah kamu yang ada ac nya itu loh din hehe” ucap Gina sambil bercanda. “Ah kamu becanda saja” Jawab Dini yang masih gugup karena buta dalam hal agama. “Yasudah ayo aku kenalkan pada umi ku” Gina memperkenalkan umi nya pada Dini dan umi nya pun menerima dengan hangat kedatangan Dini.
Sesaat kemudian, Umi Gina menghampiri Dini seraya membawa buku agak tebal. Bukunya masih bersampul plastik. ‘Buku Panduan Sholat dan Wudhu. Untuk Anak Tk/Sd,” baca Dini. Umi Gina memberi buku itu pada Dini. “Ini untuk Dini.” Dini menerima, dan langsung merobek sampul plastiknya. Dini mulai membaca-baca. Ia baca dengan sangat serius. “Ternyata, ada doa-doa sama niat. Aku harus ngapalin!” tekad Dini dalam hati. Dini menghapalkannya sampai bisa. Dini anak yang pintar dalam pelajaran sekolah ternyata bisa juga menghapal dengan cepat. Niat-niat Sholat, Doa Iftitah, Bacaan I’tidal, dan Bacaan Rukuk dan Sujud. Surah-surah pendek dan Takbir. Surahnya pun hanya Al-Fatihah, Al-Nasr, Al-Falaq, Dan At-Tin. Ia belum hafal doa Duduk diantara dua sujud dan Tahiyat. Ia pun menghapalnya sekeras mungkin.
Akhirnya, ia berhasil menghapalkannya. Usai menghapal, ia melanjutkan bacanya. Ternyata, selain Sholat Fardhu (Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh), ada beberapa Sholat Sunnah seperti Tahajjud, Tobat, Dhuha, dan lainnya. Ia membaca sampai habis. Beberapa ilmu mulai dimengerti oleh Dini. Sambil dibimbing oleh uminya Gina, Dini terus berusaha untuk menghapal.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Terdengar suara Azan Maghrib dari Masjid perumahan Gina. Gina bergegas menuju Dini dan Uminya untuk shalat berjamaah. “Umi…Dini…” teriak Gina. “Ada apa??” tanya Umi Gina kaget. “Ini sudah adzan maghrib umi ayo kita shalat sekalian Dini praktek shalatnya” cerocos Gina. “Kamu sudah siap untuk mempraktekannya Dini?” tanya Umi Gina sambil tersenyum. “Sudah!” tegas Dini. Umi Gina mengetes. Mulai dari praktik wudhu, praktik Sholat, dan bacaannya. Ternyata Dini bisa!
“Kalo gitu, yuk Sholat Maghrib!” ajak Umi Gina dengan senyum. Mereka segera mengambil wudhu, lalu segera Sholat. Dini dan Gina mengenakan mukena kemudian umi Gina bersiap di depan untuk menjadi imamnya Dini dan Gina. Mereka shalat dengan khusyu dan tidak disangka kecerdasan Dini bukan hanya untuk duniawi tetapi juga untuk akhirat, Dini dengan mudah menghapal yang baru saja ia pelajari tadi dengan Umi Gina.
Tidak terasa sudah larut malam dan supir Dini pun mengajaknya untuk segera pulang “Non ayo kita pulang saya sudah ditelepon oleh bibi untuk mengajak enon pulang” ucap mang ujang supirnya Dini. “Iya mang sebentar yah saya ijin dulu ke Gina dan Umi. “Baik non” jawan mang ujang. “Umi… Gina.. aku pulang yah terimakasih umi sudah mau mengajari dan membimbing aku shalat bahkan diberi buku panduannya” sambil tersenyum lebar. “Iya Dini kamu jangan malas untuk terus mempelajari nya yah, dan jangan tinggalkan shalat 5 waktu nya” jawan umi Gina. “Iya umi sekarang aku tenang bisa shalat dan tidak malu lagi kalau Gina nanti mengajak aku untuk shalat bareng hehe” ucap Dini sambil mencolek Gina” Dini pun pulang dengan perasaan bahagia karena merasa yang kurang dalam hidupnya itu telah terisi dan merasa tenang dalam menjalani hari-harinya.
Ketika sesampainya di rumah Dini melihat mobil yang ada di garasi dia pun senang karena itu tandanya mamah dan papah nya sudah pulang dari dinas luar negeri. “Mamah… papah…. “ Dini teriak kegirangan. “Hai sayang anakku” jawab kedua orang tuanya. “Mamah sama papah sudah pulang?” sambil aga berkaca-kaca. “Iya nak mamah dan papah tidak tega meninggalkan kamu lama-lama hanya dengan bibi dan mang ujang” jawab mamah Dini
Adzan isya berkumandang kemudian tidak seperti biasanya Dini mengajak mamah papah nya untuk shalat berjamaah “Mah, pah ayo kita shalat berjamaah” Mamah dan papah nya kaget bukan main karena selama ini mamah dan papahnya pun sering meninggalkan shalat. “Iya nak ayo kita shalat” jawab mamah Dini. “Mah kita sudah sering sekali meninggalkan shalat, papah jadi malu sama Dini” Ujar papah Dini. “Iya pah apalagi mamah kaget bukannya dini belum bisa shalat yah?” Dini mendengar percakapan mamah dan papahnya kemudian dini menjawab “Tenang saja mah pah Dini sudah belajar Dini kan pintar hehe” jawab Dini dengan girang. Akhirnya keluarga Dini shalat berjamaah dan sadar bahwa shalat itu penting setelah diingatkan oleh Dini yang masih anak 8 tahun.
Cerpen Karangan:Miranti Mustikawati



Read more
Selasa, 17 Januari 2017
no image
Teknologi Informasi dan Komunikasi

Saya akan memberikan kesimpulan mata kuliah Teknologi Informasi mengenai materi yang telah dipelajari dari pertemuan pertama di semester tiga sampai UAS . Dosen saya bernama Rudi Hartono,S.kom.,M.pd saya di didik oleh beliau selama satu semester ini.Beliau telah mengajarkan banyak ilmu mengenai  pembelajaran Tik. Pertemuan pertama kami membahas mengenai dasar-dasar tentang apa itu Tik lalu di berikan penjelasan yang lebih luas mengenai isi Tik . Pertemuan kedua beliau juga mengajarkan kepada kami tentang perbedaan sistem operasi . Pertemuan ketiga mempelajari tentang CDM. Pertemuan ke empat mempelajari tentang Website disana saya dan kawan-kawan diajarkan untuk membuat Web baik melalui Word press maupunBlog. Pertemuan kelima mempelajari mengenai bagaimana cara mengelola web dikampus saya sendiri yaitu Universitas Djunda Bogor  lalu kita tunjukkan berita-berita apa saja yang bisa di akses .Pertemuan selanjutnya yaitu kami diajarkan mengenai cara mencari dokumen di google dalam bentuk Ppt.

            Pertemuan ke tujuh itu adalah UTS tugasnya yaitu kami membuat 300 pack Unida dan tugas individu masing-masing mahasiswa juga ditugaskan membuat blog sendiri dan saling komen antar blog teman lainnya dan menggunakan hyperlink memakai unida dan setelah itu kami diberikan tugas lewat daring dan tugasnya itu tentang bagaimana cara mengubah profil daring dan menentukan rumus perhitungan maksimal ,minimal dan rata-rata jumlah dan tugasnya itu dikirim melalui email . pertemuan selanjutnya mempelajari bagaimana seorang mahasiswa untuk mencari data ataupun nilai-nilai melalui forlap dikti . Pertemuan selanjutnya kami diberi pengarahan tentang ms.acces Pertemuan selanjutnya yaitu uji coba ms.acces yang telah dibahas di minggu yang lalu, dimana siswa di bagi kedalam 2 kloter masing-masing kloter terdiri dari 15 mahasiswa dan kita diberikan waktu selama 30 menit. Dan pertemuan selanjutnya  mempelajari bagaimana cara menggunakan blog agar menghasilkan uang dan pertemuan selanjutnya mempelajari tentang bagaimana cara mengubah theme blog kita sesuai dengan yang kita inginkan . dan pertemuan terakhir yaitu pada tanggal 21 januari 2017 kita menjalani UAS . www.undia.ac.id
Read more
Minggu, 13 November 2016
no image



PENDAHULUAN

Salah satu kebijakan Pemerintah yang disebutkan dalam butir-butir Arah Kebijakan Pendidikan Nasional bidang Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2001/2004 adalah melakukan pembaruan dan pemantapan sistem pendidikan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan agar guru (pendidik) maupun siswa (yang dididik) memiliki kualitas yang optimal dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Sekolah bagi para orang dewasa merupakan tempat untuk menuntut ilmu dan sekolah adalah tempat untuk mendapatkan pendidikan yang layak namun bagi anak – anak Sekolah Dasar, sekolah merupakan tempat yang menyenangkan dimana dia bisa bertemu dengan teman, bermain dan bersenang-senang.
Anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar kelas bawah biasanya belum bisa berpikir secara abstrak, mereka akan percaya jika mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Itu artinya anak-anak masih berpikir secara konkret atau nyata.
Di sekolah anak akan mendapatkan ilmu dan pendidikan sehingga anak mampu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, serta akan mengenal guru yang akan menjadi panutan bagi anak. Pelajaran untuk anak sekolah dasar mungkin dianggap mudah bagi guru, orangtua, maupun orang dewasa tetapi bagi anak pelajaran akan sangat sulit jika mereka tidak dapat melihat atau tidak diberikan contoh yang konkret.
Hasilnya anak akan kesulitan dalam menerima pelajaran, tidak memiliki motivasi dalam belajar dan yang lebih parah lagi mereka akan melupakan pelajaran yang baru saja mereka pelajari, oleh karena itu sebagai seorang guru harus mampu menampung setiap kesulitan belajar anak. Agar guru mampu mengembangkan media pembelajaran bagi anak sehingga anak memiliki motivasi lebih dalam belajar.
Media pembelajaran memiliki arti penting karena dalam kegiatan belajar mengajar pasti adanya ketidakjelasan bahan yang disampaikan, maka dari itu media adalah perantara antara guru dengan muridnya. Sehingga dengan adanya media proses belajar mengajarpun menjadi lebih efektif.
Dari sekian banyak media pembelajaran seperti visual, audio, dan audio-visual saya akan membahas media pembelajaran visual. Lebih tepatnya pengembangan media berbasis visual. Dengan adanya media visual (gambar) anak akan lebih memahami apa yang sedang guru terangkan dan apa tujuannya,

            Dalam proses belajar mengajar media visual sangat penting. Media visual dapat mempermudah anak memahami pelajaran dan memperkuat ingatan. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada waktu yang tepat sehingga anak mampu menangkap apa yang sedang guru coba jelaskan, dan anak pun merasa apa yang diperlihatkannya itu adalah sebuah informasi penting yang harus dia ingat.
            Informasi yang disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti gambar, foto, diagram, bagan, poster, grafik dan lain sebagainya. Menurut Sipahelut (1995) dan Sunaryo (2000) media grafis memiliki beberapa unsur yaitu : garis, bidang, tekstur, warna, gelap terang, ruang, dan komposisi.
Garis
Garis merupakan deretan titik yang menyambung dengan kerapatan tertentu atau dapat pula berupa dua buah titik yang dihubungkan. Garis memiliki sifat memanjang dan memiliki arah tertentu. Unsur yang paling menonjol adalah dimensi panjangnya.
Bidang/bentuk
Bidang merupakan unsur rupa yang memiliki dimensi panjang dan lebar, sedangkan bentuk memiliki dimensi panjang, lebar, dan tinggi atau dengan kata lain, bidang bersifat pipih, sedangkan bentuk memiliki isi atau volume. Dari bentuknya, bidang maupun bentuk terdiri atas beberapa macam, yakni bidang geometris, bidang biomorfis, bidang bersudut, dan bidang tak beraturan. Bidang dapat terbentuk karena kedua ujung garis yang bertemu atau dapat pula terjadi karena sapuan warna.
Tekstur
Tekstur merupakan sifat permukaan sebuah benda. Sifat permukaan dapat berkesan halus, kasar, kusam, mengkilap, licin, berpori, dan sebagainya. Kesan-kesan tersebut dapat dirasakan melalui penglihatan dan rabaan. Oleh karena itu, terdapat dua jenis tekstur, yaitu tekstur nyata.
Warna
Secara teori warna dapat dipelajari melalui dua pendekatan yaitu teori warna berdasarkan cahaya (dipelopori Isaac Newton) dan teori warna berdasarkan pigmen warna (Goethe). Teori warna berdasarkan cahaya dapat dilihat melalui tujuh spectrum warna dalam ilmu fisika, seperti halnya warna pelangi. Untuk kepentingan pembelajaran media grafis, kita membahas teori warna berdasarkan pigmen, yakni butiran halus pada warna.
Gelap terang
Dalam visualisasi pesan media dua dimensi, gelap terang dapat berfungsi untuk beberapa hal, antara lain menggambarkan benda menjadi berkesan tiga dimensi, menyatakan kesan ruang atau kedalaman, dan memberi perbedaan (kontras). Gelap terang dalam media grafis dapat terjadi karena intensitas (daya pancar) warna, dapat pula terjadi karena percampuran warna hitam dan putih.
Ruang (kedalaman)
Ruang dalam media tiga dimensi dapat dirasakan langsung oleh pengamat seperti halnya ruangan dalam rumah, ruang kelas, dan sebagainya. Dalam karya dua dimensi, ruang dapat mengacu pada luas bidang gambar. Unsur ruang atau kedalaman pada karya dua dimensi bersifat semua (mayat) karena diperoleh melalui kesan penggambaran yang pipih, datar, menjorok, cembung, jauh, dekat, dan sebagainya. Oleh karena itu dalam karya dua dimensi kesan ruang atau kedalaman dapat ditempuh melalui beberapa cara diataranya: 1. Melalui penggambaran gempal, 2. Penggunaan perspektif, 3. Peralihan warna, 4. Pergantian ukuran, 5. Penggambaran bidang bertindih, 5. Penggambaran bidang bertindih, 6. Pergantian tampak bidang, dan 8. Penambahan baying-bayang.
Komposisi
Komposisi pada dasarnya sama dengan prinsip visual. Di dalamnya membahas tentang bagaimana mengatur, menata, atau mengorganisasikan unsur-unsur visual agar karya seni yang dibuat menjadi enak dipandang. Komposisi ialah susunan unsur-unsur yang dapat memancarkan kesan kesatupaduan, irama, dan keseimbangan dalam suatu media grafis sehingga karya itu terasa utuh, jelas, dan memikat. Paduan unsur-unsur yang berdampingan akan menimbulkan kesan selaras atau pertentangan.
Komposisi sama halnya dengan suatu masakan, dapat terasa hambar, enak, atau sedap. Komposisi akan terasa hambar kalau iramanya tidak menentu. Komposisi akan terasa enak jika iramanya jelas dan mempunyai pusat perhatian. Komposisi akan terasa sedap kalau iramanya bervariasi dan mempunyai keseimbangan yang dinamis, sehingga tidak membosankan.
            Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari beberapa unsur itu saling berkaitan karena setiap gambar pasti memiliki garis, bidang, tekstur, warna, gelap terang, dan komposisi. Media visual adalah media yang hanya bisa dilihat sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat sampai kepada penerimanya.
            Adapun macam-macam media grafis yaitu gambar/foto, diagram, bagan, poster, grafik, media cetak, dan buku.
Gambar/foto
Dalam proses pembelajaran gambar atau foto mempermudah kegiatan pembelajaran karena dapat memperjelas suatu masalah yang sedang dibicarakan, harganya yang relatif murah membuat para pengajar tertarik untuk menggunakan media gambar atau foto dan tidak memerlukan peralatan khusus untuk penyampaiannya. Seorang guru dapat mengembangkannya dengan cara membuat atau mencetak foto yang berkaitan dengan pelajarannya lalu ditempelkan pada papan tulis atau bisa juga ditempelkan pada kertas karton yang besar agar apa yang ingin disampaikan oleh guru kepada muridnya bisa tersampaikan secara baik, dan muridpun merasa apa yang diberikan guru adalah suatu informasi penting yang perlu diingat olehnya.Namun dari begitu banyaknya kelebihan gambar atau foto memiliki kekurangan yaitu gambar atau foto hanya menekankan persepsi indra mata dan ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar atau untuk orang yang lebih banyak.

Diagram
Diagram adalah garis-garis atau simbol-simbol untuk menunjukkan hubungan antara komponen atau menggambarkan suatu proses tertentu. Dengan menggunakan diagram, bahan yang diajarkan untuk murid dapat lebih mudah dipahami oleh mereka. Untuk seorang guru mengembangkannya dengan cara membuat diagram sesuai dengan pelajaran yang sedang dipelajari misalnya membuat diagram lalu dipresentasikan kepada murid melalui powerpoint dan menggunakan alat seperti proyektor. Dengan begitu anak akan mampu menangkap dan memahami apa yang sedang dia pelajari.

Bagan
Bagan adalah media grafis yang didesain untuk menyajikan ringkasan visual secara jelas dari suatu proses yang sangat penting. Biasanya dalam bagan dilengkapi juga dengan media grafis lainnya seperti gambar atau foto, lambang-lambang verbal lainnya. Sebaiknya pembuatan bagan dibuat secara sederhana dan tidak berbelit-belit. Ada beberapa macam bagan, misalnya bagan pohon, bagan akar, dan bagan arus. Cara guru mengembangkannya agar bahan yang ingin disampaikan kepada muridnya tersampaikan adalah setiap bahan yang terlalu banyak dan dirasa akan sulit dipahami oleh anak-anak sebagai seorang guru harus cerdas dan bisa membuat bagan yang mudah dimengerti oleh muridnya sehingga semua bahan yang ingin disampaikan itu tersampaikan sesuai dengan yang guru inginkan.


Poster
‘Poster adalah media yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi, saran atau ide tertentu, sehingga dapat merangsang keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan tersebut. Jadi tidak hanya saat proses pembelajaran saja guru dapat mengajak anak atau memberikan pendidikan tetapi juga bisa melalui poster yang biasanya ditempel pada mading sekolah, untuk meningkatkan minat baca anak guru dapat menempelkan poster yang berisikan atau mengajak untuk rajin membaca tentunya dengan poster yang membuat anak tertarik. Poster yang membuat anak tertarik biasanya adanya gambar, foto dan lain sebagainya.

Grafik
Grafik adalah media visual berupa garis atau gambar yang dapat memberikan informasi mengenai keadaan atau perkembangan sesuatu berdasarkan data secara kuantitatif (angka/hitungan). Biasanya media visual grafik ini dipakai ketika pelajaran IPS dan MTK misalnya grafik tentang perkembangan penduduk, perkembangan jumlah siswa, dan lain sebagainya.

Media cetak dan Buku
Untuk media cetak dan buku biasanya di sekolah akan diberikan buku yang sudah diberikan oleh pemerintah dan diberikan kepada murid, yang paling penting adalah bagaimana cara guru meningkatkan minat membaca anak. Agar anak termotivasi membaca adalah tergantung dengan cara guru memberikan pengajaran buatlah anak nyaman dengan pelajaran sehingga anak akan penasaran dengan pelajaran tersebut dan secara tidak langsung akan mempelajari atau membaca pelajaran tersebut. Contohnya pelajaran Bahasa Indonesia buatlah anak menyukai pelajarannya dengan cara guru sering memberikan cerita kepada anak-anak dan pada satu waktu guru menanyakan apa kesimpulan dari cerita tersebut sehingga secara tidak langsung disitu terjadilah proses pembelajaran.
            Selain media visual diatas adapula yang sekarang sedang marak diperbincangkan adalah media visual berupa komik, karena begitu tingginya minat anak terhadap komik hal tersebut mengilhami untuk dijadikannya sebagai media pembelajaran. Bagaimana tidak menurut penelitian Thorndike, diketahui bahwa anak yang membaca komik maka sama dengan membaca buku buku pelajaran dalam setiap tahunnya, jika dibandingkan dengan siswa yang tidak membaca komik maka siswa yang membaca komik memiliki banyak kosakata dibandingkan yang tidak membaca komik.
            Bukan berarti membaca komik lebih baik daripada membaca buku pelajaran melainkan guru mampu mengembangkan media visual tersebut karena banyaknya kelebihan media visual komik dari segi penyajiannya. Penyajiannya mengandung unsur visual dan cerita yang kuat. Ekspresi yang divisualkan membuat pembaca terlibat atau merasakan emosional sehingga membuat pembaca terus membacanya hingga selesai. Karena siswa cenderung menyukai buku yang bergambar diharapkan komik akan lebih baik jika berisikan pelajaran yang berkaitan dengan proses pembelajaran atau memiliki nilai moral didalamnya, dengan begitu siswa dapat termotivasi untuk membaca.
Media adalah alat bantu yang berguna dalam kegiatan belajar mengajar. Alat bantu dapat mewakili sesuatu yang tidak dapat disampaikan guru melalui kata-kata atau kalimat. Kesulitan siswa memahami konsep dan prinsip tertentu dapat diatasi dengan bantuan media pembelajaran. Karena dengan adanya alat bantu dapat mempermudah guru dalam proses pembelajaran.
Menurut Djamarah dan Zain (2002:144) media berbasis visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan dukungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.
Siswa menerima pesan-pesan visual, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ada dua variabel yang sangat penting, yaitu perkembangan usia anak dan latar belakang yang dianutnya. Hasil temuan ahli psikologi perkembangan anak, menunjukkan bahwa keterbacaan visual dipengaruhi oleh kematangan jiwa anak. Misalnya, sebelum usia 12 tahun anak cenderung untuk menafsirkan pesan-pesan visual menurut bagian demi bagian daripada secara keseluruhan adegan dan melaporkan kesimpulan tentang makna gambar.
Using Projected Visual in the Classroom
            Here are some general guidelines for using projected visuals. More specific guidelines for using presentation software, digital images, document cameras, and overhead projection are given later in the chapter.
Use visual variety. Mix the types of visuals, using verbal titles to help break the presentation into segments. Use visuals that are not cluttered with illegible details. Teach your audience to interpret visuals.
Rehearse. Plan and rehearse your narration to accompany projected visuals if it is not already recorded on tape or other audio medium.
Keep it moving. Limit your discussion of each visual. Even a minute of narration can seem long to your audience unless there is a complex visual to examine at the same time.
Pause for discussion. Get students actively involved by asking relevant questions during your visual presentation. You may want to ask students to take turns reading the captions (if any) aloud; this is a useful reading activity for early elementary students. Provide written or verbal cues to highlight important information contained in the visuals.
Avoid irrelevant images. If there is a “talky” section in the middle of your presentation, use a black slide or turn off the projector rather than hold an irrelevant visual on the screen.
Test visually. Since the visual presentation presumably is providing critical visual information, consider using visuals to test the mastery of visual concepts. You can, for instance, use specific visuals and ask individual students to identify or describe the object or process shown.
Media Visual Dalam Pelajaran Olahraga
Metode pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar dengan menggunkan bantuan media visual akan memudahkan penyampaian materi atau pesan dari guru kepada peserta didik. Media visual yang dipilih atau diciptakan sebaiknya  lebih memperhatikan tingkat pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, keterbatasan sarana prasarana sekolah, dan tingkat kesulitan materi. Media visual yang telah dipilih atau diciptakan dapat  ditampilkan dalam bentuk yang menarik, sederhana, jelas, ekonomis, dan inovatif untuk menghindari kesalahan persepsi oleh peserta didik terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh guru. Kreatifitas guru dalam menciptakan dan menggunakan media visual secara efektif dan efisien menyebabkan peserta didik menjadi antusias mengikuti proses pem- belajaran sehingga tujuan dari pendidikan jasmani di sekolah dasar dapat tercapai. Diharapkan guru akan lebih bijak dalam memanfaatkan media visual ini.

Media Berbasis Visual Menggunakan Permainan Ular Tangga
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa; a)secara umum media pembelajaran berbasis visual berbentuk permainan ular tangga ini merupakan media yang efektif untuk meningkatkan daya serap dan pemahaman siswa terhadap pelajaran, khususnya pembahasan yang sulit diterima tanpa perantara media. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan nilai post test siswa setelah menggunakan media pembelajaran; b)minat siswa terhadap media pembelajaran berbasis visual sangat baik, hal ini dapat dilihat dari antusiasme siswa pada saat menggunakan media pembelajaran ini. Ketika siswa belajar dalam kondisi menyenangkan, maka siswa bisa menyerap dan mengingat lebih banyak materi yang disampaikan; c)dalam perspektif guru, media pembelajaran ini kurang menguntungkan apabila tidak terdapat guru pendamping tambahan untuk mengawasi dan membimbing siswa pada saat menggunakan media pembelajaran, sedangkan pada umumnya guru pendamping bidang studi hanya berjumlah satu di setiap kelas. Tanpa pengawasan, siswa bisa mudah terjebak dalam permainan ulartangganya saja tanpa bisa menyerap nilai-nilai penting yang disampaikan media pembelajaran. 
Permainan-permainan tradisional sederhana dapat menjadi sumber inspirasi dalam merancang sebuah media pembelajaran. Kita mengetahui bahwa permainan ular tangga adalah salah satu jenis permainan tradisional yang mendunia. Permainan ini tidak hanya berlaku di negara kita saja, tetapi juga di berbagai negara lain di dunia. Permainan ini merupakan jenis permainan kelompok, melibatkan beberapa orang dan tidak dapat digunakan secara individu. Secara psikologis, ular tangga terbukti dapat meningkatkan kemampuan anak-anak untuk berinteraksi dengan kehidupan sosial. Berbeda dengan permainan berbasis media elektronik yang mengedepankan permainan individu, dimana anak-anak akan berkonsentrasi
untuk sepenuhnya berinteraksi dengan media elektronik seperti komputer, video game atau play station. Para pakar psikologi menyebutkan, bahwa permainan tradisional cenderung lebih menguntungkan dibandingkan permainan melalui media elektronik. Ular Tangga ini dimodifikasi sehingga menjadi media permainan yang komunikatif dan mudah dimengerti, dengan visualisasi eye catching, atraktif dan menyenangkan untuk digunakan sebagai media belajar. Ular Tangga komunikatif disertai dengan gambar yang menarik dan full colour mutlak dibutuhkan dalam desain ular tangga ini. Dalam sebuah riset psikologi pendidikan disebutkan bahwa anak-anak lebih mudah memahami bahasa visual dibandingkan dengan bahasa verbal. Dengan demikian, sebuah media pembelajaran yang penuh dengan ilustrasi full colour yang komunikatif akan meningkatkan minat siswa untuk belajar dan mengingat kembali pelajaran yang telah diberikan. Media Ular Tangga ini dinilai sangat efektif untuk mengulang (review) bab-bab tertentu dalam pelajaran yang dianggap paling sulit untuk dipahami oleh siswa dan kurang efektif apabila disampaikan secara verbal.
Dengan media Ular Tangga ini guru dapat menghemat waktu untuk menjelaskan secara detail bab tertentu yang perlu dijelaskan kembali secara struktural. Selain itu, siswa juga dapat dengan mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru melalui media ini karena siswa tidak merasa terbebani dengan pengulangan unit tertentu. Pembelajaran yang melibatkan kecenderungan anak-anak untuk bermain jauh lebih efektif karena siswa merasa lebih santai. Bagi anak-anak belajar sambil bermain adalah penting. Seorang peneliti pendidikan bernama Peter Kline (Dryden&Vos:1999) bahkan meyakinkan kepada kita bahwa belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan.
Jadi dapat saya simpulkan bahwa anak adalah peniru apapun yang orang dewasa katakan, mereka akan percaya dengan semua jawaban atas pertanyaan yang diberikan kepada guru. Anak akan mengingat jawaban dari pertanyaannya jika jawaban tersebut disertai dengan sesuatu yang dia minati atau disukai oleh anak, karena menurut anak jawaban apapun semua sama tanpa pertimbangan benar dan salah sesuai dengan yg mereka tiru.
Read more