Ku ingin Bisa Shalat
Dini adalah anak yang berusia 8 tahun. Dini anak
yang polos, baik, mudah bergaul dengan teman sebayanya tetapi tidak banyak
berbicara. Dini selalu mau belajar apapun tentang pelajaran di sekolah
sehinngga dia dapat menjadi ranking satu di sekolahnya. Meskipun orang tua nya
jarang pulang dia adalah anak yang mandiri, Dini diasuh oleh bibi yang membantu
keluarganya di rumah. Walaupun Dini anak yang berkecukupan bahkan lebih Dini
masih merasa kurang puas dengan hidupnya.
Siang hari di Sekolah Gina temannya Dini yang
memiliki pengetahuan lebih tentang agama islam dan dan lebih islami
dibandingkan Dini mengajak Dini untuk shalat, ini bukan pertama kalinya Gina
mengajak Dini shalat dan bukan pertama kalinya juga Dini menolak ajakan Gina.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar… ! “ terdengar suara adzan Dzuhur. “Dini ayo kita
ke mushola” ucap Gina sambil berdiri memegang mukena. “Tidak gin kamu saja
duluan aku nanti saja” tidak seperti hari sebelumnya Gina membiarkan Dini tidak
shalat hari ini Gina lebih memaksa kepada Dini. “Ayolah Din kalau kamu terus
terusan mengulur waktu shalat itu tidak baik bagaimana kalau kamu tidak sempat
shalat dan kamu sudah dipanggil oleh Allah” Dini terdiam dan mengabaikan
perkataan Gina.
Dini sebenarnya bukan mau mengulur ulur waktu
shalat tetapi Dini malu bahwa dirinya belum bisa shalat secara benar, maklum
orang tua nya jarang pulang dan dia hanya diasuh oleh bibi yang membantunya di
rumah sehingga Dini kurang dalam masalah agama. Ketika Gina sudah selesai
shalat kemudian Dini menghampirinya “Sebenarnya aku mau jujur gin sama kamu”
ucap Dini “Jujur saja din aku akan mendengarkan apa yang akan kamu bicarakan
sama aku” jelas Gina. Dini duduk dibangku dekat Gina “Sebenarnya selama ini aku
tidak mau diajak shalat oleh kamu bukan karena aku malas” Dini menundukan
kepalanya. “Lalu kenapa din?” jawab Gina. “Sebenarnya aku tidak bisa shalat
secara benar” Gina pun memahami nya karena sebelumnya Gina pun sudah tau hanya
saja menunggu Dini yang menceritakannya sendiri.
Sore hari ketika waktu nya pulang Gina
menghampiri Dini “Din bagaimana kalau kamu belajar shalat sama umi aku?” Dini
terkejut “Memangnya tidak apa-apa gin?” menjawab masih sambil terkejut. “Tentu
tidak apa-apa din” Jawab Gina dengan senangnya. Kemudian mereka berdua pergi
kerumah Dini untuk ganti baju dan membawa peralatan shalat dan ijin pada bibi
di rumahnya Dini.
Dini dan Gina pergi kerumah Gina diantar oleh
supirnya Dini, di dalam mobil Dini terlihat gugup dicampur rasa senang karena
akan belajar shalat dengan benar, karena selama ini belum ada yang memberikan
pencerahan dalam hidupnya Dini. “Ayo din ini rumah ku” ujar Gina. “Oh ya gin
ternyata rumah mu sejuk yah” jawab Dini. “Ah masih sejuk rumah kamu yang ada ac
nya itu loh din hehe” ucap Gina sambil bercanda. “Ah kamu becanda saja” Jawab
Dini yang masih gugup karena buta dalam hal agama. “Yasudah ayo aku kenalkan
pada umi ku” Gina memperkenalkan umi nya pada Dini dan umi nya pun menerima
dengan hangat kedatangan Dini.
Sesaat kemudian, Umi Gina menghampiri Dini seraya
membawa buku agak tebal. Bukunya masih bersampul plastik. ‘Buku Panduan Sholat
dan Wudhu. Untuk Anak Tk/Sd,” baca Dini. Umi Gina memberi buku itu pada Dini.
“Ini untuk Dini.” Dini menerima, dan langsung merobek sampul plastiknya. Dini
mulai membaca-baca. Ia baca dengan sangat serius. “Ternyata, ada doa-doa sama
niat. Aku harus ngapalin!” tekad Dini dalam hati. Dini menghapalkannya sampai
bisa. Dini anak yang pintar dalam pelajaran sekolah ternyata bisa juga
menghapal dengan cepat. Niat-niat Sholat, Doa Iftitah, Bacaan I’tidal, dan
Bacaan Rukuk dan Sujud. Surah-surah pendek dan Takbir. Surahnya pun hanya
Al-Fatihah, Al-Nasr, Al-Falaq, Dan At-Tin. Ia belum hafal doa Duduk diantara
dua sujud dan Tahiyat. Ia pun menghapalnya sekeras mungkin.
Akhirnya, ia berhasil menghapalkannya. Usai
menghapal, ia melanjutkan bacanya. Ternyata, selain Sholat Fardhu (Dzuhur,
Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh), ada beberapa Sholat Sunnah seperti Tahajjud,
Tobat, Dhuha, dan lainnya. Ia membaca sampai habis. Beberapa ilmu mulai
dimengerti oleh Dini. Sambil dibimbing oleh uminya Gina, Dini terus berusaha
untuk menghapal.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Terdengar suara Azan
Maghrib dari Masjid perumahan Gina. Gina bergegas menuju Dini dan Uminya untuk
shalat berjamaah. “Umi…Dini…” teriak Gina. “Ada apa??” tanya Umi Gina kaget. “Ini
sudah adzan maghrib umi ayo kita shalat sekalian Dini praktek shalatnya”
cerocos Gina. “Kamu sudah siap untuk mempraktekannya Dini?” tanya Umi Gina
sambil tersenyum. “Sudah!” tegas Dini. Umi Gina mengetes. Mulai dari praktik
wudhu, praktik Sholat, dan bacaannya. Ternyata Dini bisa!
“Kalo gitu, yuk Sholat Maghrib!” ajak Umi Gina
dengan senyum. Mereka segera mengambil wudhu, lalu segera Sholat. Dini dan Gina
mengenakan mukena kemudian umi Gina bersiap di depan untuk menjadi imamnya Dini
dan Gina. Mereka shalat dengan khusyu dan tidak disangka kecerdasan Dini bukan
hanya untuk duniawi tetapi juga untuk akhirat, Dini dengan mudah menghapal yang
baru saja ia pelajari tadi dengan Umi Gina.
Tidak terasa sudah larut malam dan supir Dini pun
mengajaknya untuk segera pulang “Non ayo kita pulang saya sudah ditelepon oleh
bibi untuk mengajak enon pulang” ucap mang ujang supirnya Dini. “Iya mang
sebentar yah saya ijin dulu ke Gina dan Umi. “Baik non” jawan mang ujang. “Umi…
Gina.. aku pulang yah terimakasih umi sudah mau mengajari dan membimbing aku
shalat bahkan diberi buku panduannya” sambil tersenyum lebar. “Iya Dini kamu
jangan malas untuk terus mempelajari nya yah, dan jangan tinggalkan shalat 5
waktu nya” jawan umi Gina. “Iya umi sekarang aku tenang bisa shalat dan tidak
malu lagi kalau Gina nanti mengajak aku untuk shalat bareng hehe” ucap Dini
sambil mencolek Gina” Dini pun pulang dengan perasaan bahagia karena merasa
yang kurang dalam hidupnya itu telah terisi dan merasa tenang dalam menjalani
hari-harinya.
Ketika sesampainya di rumah Dini melihat mobil
yang ada di garasi dia pun senang karena itu tandanya mamah dan papah nya sudah
pulang dari dinas luar negeri. “Mamah… papah…. “ Dini teriak kegirangan. “Hai
sayang anakku” jawab kedua orang tuanya. “Mamah sama papah sudah pulang?”
sambil aga berkaca-kaca. “Iya nak mamah dan papah tidak tega meninggalkan kamu
lama-lama hanya dengan bibi dan mang ujang” jawab mamah Dini
Adzan isya berkumandang kemudian tidak seperti
biasanya Dini mengajak mamah papah nya untuk shalat berjamaah “Mah, pah ayo
kita shalat berjamaah” Mamah dan papah nya kaget bukan main karena selama ini
mamah dan papahnya pun sering meninggalkan shalat. “Iya nak ayo kita shalat”
jawab mamah Dini. “Mah kita sudah sering sekali meninggalkan shalat, papah jadi
malu sama Dini” Ujar papah Dini. “Iya pah apalagi mamah kaget bukannya dini
belum bisa shalat yah?” Dini mendengar percakapan mamah dan papahnya kemudian
dini menjawab “Tenang saja mah pah Dini sudah belajar Dini kan pintar hehe”
jawab Dini dengan girang. Akhirnya keluarga Dini shalat berjamaah dan sadar
bahwa shalat itu penting setelah diingatkan oleh Dini yang masih anak 8 tahun.
Cerpen
Karangan:Miranti Mustikawati
.png)