Open top menu
Sabtu, 30 Juni 2018


Cerpen Karangan: Miranti Mustikawati
Kategori: 
Cerpen Anak

Dini adalah anak yang berusia 8 tahun. Dini anak yang polos, baik, mudah bergaul dengan teman sebayanya tetapi tidak banyak berbicara. Dini selalu mau belajar apapun tentang pelajaran di sekolah sehinngga dia dapat menjadi ranking satu di sekolahnya. Meskipun orang tua nya jarang pulang dia adalah anak yang mandiri, Dini diasuh oleh bibi yang membantu keluarganya di rumah. Walaupun Dini anak yang berkecukupan bahkan lebih Dini masih merasa kurang puas dengan hidupnya.
Siang hari di Sekolah Gina temannya Dini yang memiliki pengetahuan lebih tentang agama islam dan dan lebih islami dibandingkan Dini mengajak Dini untuk shalat, ini bukan pertama kalinya Gina mengajak Dini shalat dan bukan pertama kalinya juga Dini menolak ajakan Gina. “Allahu Akbar… Allahu Akbar… ! “ terdengar suara adzan Dzuhur. “Dini ayo kita ke mushola” ucap Gina sambil berdiri memegang mukena. “Tidak gin kamu saja duluan aku nanti saja” tidak seperti hari sebelumnya Gina membiarkan Dini tidak shalat hari ini Gina lebih memaksa kepada Dini. “Ayolah Din kalau kamu terus terusan mengulur waktu shalat itu tidak baik bagaimana kalau kamu tidak sempat shalat dan kamu sudah dipanggil oleh Allah” Dini terdiam dan mengabaikan perkataan Gina.
Dini sebenarnya bukan mau mengulur ulur waktu shalat tetapi Dini malu bahwa dirinya belum bisa shalat secara benar, maklum orang tua nya jarang pulang dan dia hanya diasuh oleh bibi yang membantunya di rumah sehingga Dini kurang dalam masalah agama. Ketika Gina sudah selesai shalat kemudian Dini menghampirinya “Sebenarnya aku mau jujur gin sama kamu” ucap Dini “Jujur saja din aku akan mendengarkan apa yang akan kamu bicarakan sama aku” jelas Gina. Dini duduk dibangku dekat Gina “Sebenarnya selama ini aku tidak mau diajak shalat oleh kamu bukan karena aku malas” Dini menundukan kepalanya. “Lalu kenapa din?” jawab Gina. “Sebenarnya aku tidak bisa shalat secara benar” Gina pun memahami nya karena sebelumnya Gina pun sudah tau hanya saja menunggu Dini yang menceritakannya sendiri.
Sore hari ketika waktu nya pulang Gina menghampiri Dini “Din bagaimana kalau kamu belajar shalat sama umi aku?” Dini terkejut “Memangnya tidak apa-apa gin?” menjawab masih sambil terkejut. “Tentu tidak apa-apa din” Jawab Gina dengan senangnya. Kemudian mereka berdua pergi kerumah Dini untuk ganti baju dan membawa peralatan shalat dan ijin pada bibi di rumahnya Dini.

Dini dan Gina pergi kerumah Gina diantar oleh supirnya Dini, di dalam mobil Dini terlihat gugup dicampur rasa senang karena akan belajar shalat dengan benar, karena selama ini belum ada yang memberikan pencerahan dalam hidupnya Dini. “Ayo din ini rumah ku” ujar Gina. “Oh ya gin ternyata rumah mu sejuk yah” jawab Dini. “Ah masih sejuk rumah kamu yang ada ac nya itu loh din hehe” ucap Gina sambil bercanda. “Ah kamu becanda saja” Jawab Dini yang masih gugup karena buta dalam hal agama. “Yasudah ayo aku kenalkan pada umi ku” Gina memperkenalkan umi nya pada Dini dan umi nya pun menerima dengan hangat kedatangan Dini.
Sesaat kemudian, Umi Gina menghampiri Dini seraya membawa buku agak tebal. Bukunya masih bersampul plastik. ‘Buku Panduan Sholat dan Wudhu. Untuk Anak Tk/Sd,” baca Dini. Umi Gina memberi buku itu pada Dini. “Ini untuk Dini.” Dini menerima, dan langsung merobek sampul plastiknya. Dini mulai membaca-baca. Ia baca dengan sangat serius. “Ternyata, ada doa-doa sama niat. Aku harus ngapalin!” tekad Dini dalam hati. Dini menghapalkannya sampai bisa. Dini anak yang pintar dalam pelajaran sekolah ternyata bisa juga menghapal dengan cepat. Niat-niat Sholat, Doa Iftitah, Bacaan I’tidal, dan Bacaan Rukuk dan Sujud. Surah-surah pendek dan Takbir. Surahnya pun hanya Al-Fatihah, Al-Nasr, Al-Falaq, Dan At-Tin. Ia belum hafal doa Duduk diantara dua sujud dan Tahiyat. Ia pun menghapalnya sekeras mungkin.
Akhirnya, ia berhasil menghapalkannya. Usai menghapal, ia melanjutkan bacanya. Ternyata, selain Sholat Fardhu (Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh), ada beberapa Sholat Sunnah seperti Tahajjud, Tobat, Dhuha, dan lainnya. Ia membaca sampai habis. Beberapa ilmu mulai dimengerti oleh Dini. Sambil dibimbing oleh uminya Gina, Dini terus berusaha untuk menghapal.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Terdengar suara Azan Maghrib dari Masjid perumahan Gina. Gina bergegas menuju Dini dan Uminya untuk shalat berjamaah. “Umi…Dini…” teriak Gina. “Ada apa??” tanya Umi Gina kaget. “Ini sudah adzan maghrib umi ayo kita shalat sekalian Dini praktek shalatnya” cerocos Gina. “Kamu sudah siap untuk mempraktekannya Dini?” tanya Umi Gina sambil tersenyum. “Sudah!” tegas Dini. Umi Gina mengetes. Mulai dari praktik wudhu, praktik Sholat, dan bacaannya. Ternyata Dini bisa!
“Kalo gitu, yuk Sholat Maghrib!” ajak Umi Gina dengan senyum. Mereka segera mengambil wudhu, lalu segera Sholat. Dini dan Gina mengenakan mukena kemudian umi Gina bersiap di depan untuk menjadi imamnya Dini dan Gina. Mereka shalat dengan khusyu dan tidak disangka kecerdasan Dini bukan hanya untuk duniawi tetapi juga untuk akhirat, Dini dengan mudah menghapal yang baru saja ia pelajari tadi dengan Umi Gina.
Tidak terasa sudah larut malam dan supir Dini pun mengajaknya untuk segera pulang “Non ayo kita pulang saya sudah ditelepon oleh bibi untuk mengajak enon pulang” ucap mang ujang supirnya Dini. “Iya mang sebentar yah saya ijin dulu ke Gina dan Umi. “Baik non” jawan mang ujang. “Umi… Gina.. aku pulang yah terimakasih umi sudah mau mengajari dan membimbing aku shalat bahkan diberi buku panduannya” sambil tersenyum lebar. “Iya Dini kamu jangan malas untuk terus mempelajari nya yah, dan jangan tinggalkan shalat 5 waktu nya” jawan umi Gina. “Iya umi sekarang aku tenang bisa shalat dan tidak malu lagi kalau Gina nanti mengajak aku untuk shalat bareng hehe” ucap Dini sambil mencolek Gina” Dini pun pulang dengan perasaan bahagia karena merasa yang kurang dalam hidupnya itu telah terisi dan merasa tenang dalam menjalani hari-harinya.
Ketika sesampainya di rumah Dini melihat mobil yang ada di garasi dia pun senang karena itu tandanya mamah dan papah nya sudah pulang dari dinas luar negeri. “Mamah… papah…. “ Dini teriak kegirangan. “Hai sayang anakku” jawab kedua orang tuanya. “Mamah sama papah sudah pulang?” sambil aga berkaca-kaca. “Iya nak mamah dan papah tidak tega meninggalkan kamu lama-lama hanya dengan bibi dan mang ujang” jawab mamah Dini
Adzan isya berkumandang kemudian tidak seperti biasanya Dini mengajak mamah papah nya untuk shalat berjamaah “Mah, pah ayo kita shalat berjamaah” Mamah dan papah nya kaget bukan main karena selama ini mamah dan papahnya pun sering meninggalkan shalat. “Iya nak ayo kita shalat” jawab mamah Dini. “Mah kita sudah sering sekali meninggalkan shalat, papah jadi malu sama Dini” Ujar papah Dini. “Iya pah apalagi mamah kaget bukannya dini belum bisa shalat yah?” Dini mendengar percakapan mamah dan papahnya kemudian dini menjawab “Tenang saja mah pah Dini sudah belajar Dini kan pintar hehe” jawab Dini dengan girang. Akhirnya keluarga Dini shalat berjamaah dan sadar bahwa shalat itu penting setelah diingatkan oleh Dini yang masih anak 8 tahun.
Cerpen Karangan:Miranti Mustikawati



Tagged
Different Themes
Written by Lovely

Aenean quis feugiat elit. Quisque ultricies sollicitudin ante ut venenatis. Nulla dapibus placerat faucibus. Aenean quis leo non neque ultrices scelerisque. Nullam nec vulputate velit. Etiam fermentum turpis at magna tristique interdum.

This is the most recent post.
Posting Lama

5 komentar: